Senin, 11 Mei 2009

kartini-kartini peradaban


Kartini-kartini peradaban
Bakar saja…Sulut dan sulut lagi! Jangan berhenti karena kamu tidak akan pernah tahu dari tumpukan jerami yang manakah api akan berkobar hebat…!
Jangan menyerah jika kamu tahu apa yang kamu lakukan ini sebuah kebaikan! Dan kupu-kupu selalu melewati fase ulat..tapi apa pernah kamu melihat ulat yang tidak makan daun sama sekali karena ia khawatir akan disisihkan dari pergaulan? Semua orang sudah tahu bagaimana ulat, dan ulat tidak menyerah dan berhenti makan daun meski nyawa resikonya. Makan ia bisa mati karena serangan manusia, tapi tak makan ia juga akan mati. Tapi lihatlah, jika ia makan, artinya ada perjuangannya untuk menjadi kupu-kupu, karena ia akan menghadapi masa penuh ujian yang lebih dahsyat bagi hidupnya, menjadi kepompong.
Memiliki kehidupan yang berkualitas, tidak hanya secara materiil, itu adalah pilihan.
Menjadi Khadijah, Aisyah, Khansa bukan tanpa perjuangan… bahkan seorang Asiyah mengarungi perjuangan luar biasa, dalam kenikmatan yang tiada tara ia harus merelakan segalanya, demi kenikmatan abadi yang dijanjikan Tuhannya. Bahkan tekanan terberat datang dari suaminya sendiri. Bahkan RA Kartini bukan nyaman-nyaman saja menikmati hidupnya, dan beliau wafat dalam usia yang belum tua.

0 komentar:

Poskan Komentar