Sabtu, 11 April 2009

Lagi-lagi Tentang Lelaki Seorang peserta kursus dari Brooklyn

Anak lelaki kecil itu berat badannya kurang dan menolak makan seperti yang seharusnya. Orangtuanya menggunakan metode yang sudah umum. Mereka marah dan mengomel, “Ibu ingin kamu memakan ini dan itu,” “ Ayah ingin kamu tumbuh sebagai lelaki besar.”
Apakah anak itu menaruh perhatian terhadap permintaan-permintaan itu? Sama sekali tidak.
Tak seorang pun akan mengharapkan seorang anak tiga tahun bereaksi terhadap pandangan seorang ayah berusia tiga puluh tahun. Namun ternyata memang itu yang diharapkan si Ayah, mengerti dia. Sungguh tidak masuk akal. Akhirnya si ayah sadar juga. Maka dia berkata kepada dirinya, “Apa yang diinginkan anak itu? Bagaimana saya mengaitkan apa yang saya inginkan dengan apa yang dia inginkan?”
Segalanya menjadi mudah bagi si Ayah tatkala dia mulai memikirkan hal itu. Anak lelakinya mempunyai sepeda roda tiga yang sangat dia sayangi, anak itu sering mengendarainya di halaman depan rumah mereka di Brooklyn. Selang beberapa rumah di jalan itu, tinggal seorang anak lelaki yang lebih besar dan suka menggertak, yang akan menarik anak lelaki kecil turun dari sepeda roda tiganya dan kemudian sepeda tersebut dinaikinya sendiri.
Sudah sewajarnya, anak lelaki kecil itu akan berlari dan mnenjerit kepada ibunya, lalu ibunya akan keluar dan menyuruh turun si tukang gertak itu turun dari sepeda itu, kemudian menaikkan anaknya lagi. Peristiwa ini terjadi hamper setiap hari.
Apa yang diinginkan si anak kecil? Tidak perlu minta bantuan Sherlock Holmes untuk menjawabnya (tapi boleh deh kalo yg bantu Sinichi Kudo ;> ). Rasa bangganya, kemarahannya, keinginannya untuk menjadi penting – semua emosi-emosi paling kuat – yang bisa membantunya untuk membalas dendam, untuk menghantam si tukang gertak. Dan tatkala ayahnya menjelaskan bahwa ia akan mampu mengahantam anak yang lebih besar itu suatu hari nanti, apabila dia makan makanan yang disuruh ibunya – begitu ayahnya menjanjikian hal itu – tidak lagi ada masalah. Anak itu menurut saja makan bayam, telur, daging – segalanya, agar bisa cukup besar untuk menghantam si tukang gertak yang telah menghinanya begitu sering.
Setelah memecahkan masalah tersebut, orangtua tersebut mulai menangani masalah lainnya : anak kecil itu mempunyai kebiasaan buruk, yaitu mengompol di tempat tidurnya.
Dia tidur bersama neneknya. Pada pagi hari, neneknya akan bangun dan mencium bau ompol dan berkata,”Coba lihat Johnny, apa yang kau lakukan lagi tadi malam?”
Dia akan menjawab,” Tidak, saya tidak melakukannya. Nenek yang melakukannya.”

Memerahi, menampar, mempermalukannya, dengan mengulangi terus bahwa orang tua tidak ingin dia melakukan hal itu – tak satupun dari cara ini yang bisa mengeringkan tempat tidurnya. Maka orangtuanya bertanya, “Bagaimana kami bisa membuat anak ini berhenti mengompol di tempat tidurnya?”
Apa yang dia inginkan? Pertama, dia ingin memakai piyama seperti milik ayah, bukannya memakai baju tidur seperti milik nenek. Nenek sudah bosan dengan kebiasaan mengompol itu pada malam hari, maka dia dengan senang hati menawarkan membelikan piyama kalau Johnny mau berubah. Yang kedua, dia ingin tempat tidur sendiri. Nenek tidak keberatan.
Kemudian ibunya membawanya ke took di Brooklyn, mengedipkan mata pada penjual wanitanya dan berkata, “Ini ada seorang tuan kecil yang ingin berbelanja.”
Pelayan wanita itu membuatnya merasa penting dengan mengatakan,”Anak muda, apa yang bisa saya bantu untuk Anda?”
Johnny berjinjit sedikit dan berkata, “Saya ingin membeli tempat tidur untuk saya sendiri.”
Ketika dia diperlihatkan sebuah yang memang ingin dibeli ibunya, ibunya mengedipkan mata lagi kepada si Pelayan wanita, dan anak tersebut terbujuk membelinya.
Tempat tidur itu diantar esok harinya, dan malam itu ketika Sang Ayah pulang, si anak kecil berlari menghampiri pintu dan berteriak,”Ayah! Ayah! Ayo naik ke atas dan lihat tempat tidur yang saya beli!”
Si ayah, memandang tempat tidur itu, mematuhi saran Charles Schwab : dia “murah hati dalam penerimaannya dan royal dalm memberikan penghargaan”.
“Kau tidak akan mengompol di tempat tidur ini bukan?” Tanya ayahnya.
“Ah, tidak, tidak! Saya tidak akan mengompol di tempat tidur ini.” Anak itu menepati janjinya, karena rasa bangganya ikut serta di sana. Itu adalah tempat tidurnya. Dia sendiri yang telah membelinya. Dan dia mengenakan piyama sekarang seperti seorang pemuda. Dia ingin bertindak seperti seorang pria. Dan memang dia melakukannya.
Membaca cerita ini, bikin inget sama Wan, jangan bilang wan sebenernya dah duluan baca buku ini. Karena re merasa wan dah mempraktikkan teori kontemporer ini. Bener-bener keren dan sangat memanusiakan manusia. Win win solution, bukan wan-wan solution ya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar